Selasa, 24 Maret 2015 By: Himabio UNY

Sejuta Pesona Anggrek Indonesia



Anggrek adalah tanaman yang dengan bunga yang indah dan berwarna-warni. Anggrek masuk ke dalam famili Orchidaceae. Anggrek yang sering kita temui adalah jenis anggrek bulan. Dengan mahkota yang lebar dan berwarna-warni. Ternyata Anggrek memiliki ukuran yang beragam, dari mulai yang sangat kecil sampai yang besar seperti anggrek bulan.
Karakteristik famili Orchidaceae terletak pada mahkota yang termodifikasi atau biasa disebut dengan istilah labellum. Anggrek memiliki lima tempat hidup yang berbeda, ada yang menempel di pohon (epifit), menempel di batu, tumbuh di tanah (terrestrial), tumbuh di seresah (saprofit), dan  (amobofit) yang memiliki fase generatif dan vegetatif di waktu yang berbeda. Dari tempat hidup yang beraneka ragam itu, tentu akan menyebabkan morfologi batang, daun, dan bunganya berbeda.
Dari perbedaan tersebut, menyebabkan tanaman anggrek sulit untuk dibedakan dari tanaman lain. Cara termudah untuk mengidentifikasi tanaman anggrek yaitu dengan melihat bunganya. Karena dari bunganya kita akan melihat ada tidaknya labellum. Walaupun sulit, mempelajari anggrek tetap merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Karena akan banyak kejutan yang kita dapatkan. Contohnya anggrek tanah yang tidak memiliki bentuk daun dan batang yang serupa dengan anggrek yang menempel pada pohon (epifit),  sekilas malah terlihat seperti pohon salak yang masih kecil. Keanekaragaman inilah yang membuat anggrek begitu special. Inilah tantangan yang akan kita hadapi saat mencari anggrek di alam.
Hal ini dirasakan oleh kelompok studi Herbiforus Jurdik Biologi FMIPA UNY saat mengamati anggrek di bukit Plawangan Kaliurang, Sleman, Yogyakarta. Herbiforus dengan personil 35 orang mulai naik ke bukit Plawangan melalui pintu Tlogo Nirmolo, Taman Nasional Gunung Merapi sekitar pukul 09.00 WIB. Herbiforus dibersamai oleh Prajawan Kusuma Wardhana ketua Himabio 2012.
Pada awal perjalanan, peserta kurang antusias karena medan yang dilalui cukup terjal, berbatu, licin dan sempit. Tetapi setelah peserta mulai berada di bagian atas bukit, peserta mulai menemukan tanaman anggrek. Sayangnya anggrek yang pertama kita temui adalah anggrek epifit yang menempel pada puncak pohon besar. Sehingga peserta dan pemandu tidak dapat mengidentifikasi anggrek tersebut. Semakin dalam Herbiforus menjelajah bukit Plawangan semakin banyak pula peserta yang dapat menemukan tanaman anggrek.
Kelincahan ini, dikarenakan mata peserta mulai terlatih dengan macam-macam tanaman aggrek. Menurut Prajawan, pemandu herbiforus pada ekspedisi kali ini “Kita memang sangat membutuhkan mata copet untuk menemukan anggrek di alam”. Setelah ekspedisi selesai, Herbiforus mengadakan diskusi dengan pemandu mengenai anggrek-anggrek  yang ditemukan di bukit plawangan. Menurut keterangan dari pemandu di bukit plawangan ada sekitar enam puluhanan spesies anggrek. Tetapi herbiforus hanya dapat menemukan sepuluh spesies yang diduga berbeda. Lima diantaranya sudah teridentifikasi Vanda tricolor, Dendrobium montabele, Leparis rhedii, Guiduria anastosilus, Habenaria loerzingii dan 5 lainya belum teridentifikasi.
Ingin mengetahui lebih dalam tentang dunia anggrek?  mari bergabung dengan Herbiforus FMIPA UNY J
Salam lestari, salam konservasi!!!
Salam hijau, let’s go green!!!
(mayta)